Senin, 03 Juli 2017

Keras Hati Adalah Sumber Kemaksiatan Dan Kefasikan

         


أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُون


       "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al Hadid : 16)

       Ayat diatas adalah teguran bagi orang-orang beriman akan lambatnya kelembutan hati mereka untuk mengingat Allah dan menerima kebenaran. Ibnu Abbas mengatakan bahwa para sahabat ditegur setelah tiga tahun menerima Al Quran. Padahal kalau direspon para sahabat terhadap perintah Allah dan dzikrullah itu luar biasa, bagaimana dengan ummat islam zaman sekarang.

       Ayat ini menunjukkan bahwa hati itu bisa lembut dan bisa keras. Tidak cukup pengakuan iman, tetapi harus dibarengi dengan kelembutan hati dalam dzikrullah dan menerima kebenaran. Kelembutan hati terjadi dengan kekuatan iman kepada Allah tentang keesaan, keagungan, dan kesempurnaanNya. Dengan mengingatNya, hilanglah segala kekerasan hati karena cinta dunia, baik mengingat keagunganNya; kebesaranNya; ataupun surga dan nerakaNya.

       Kelembutan hati adalah sumber segala kebaikan. Dengan kelembutan hati, seseorang mudah tersentuh ketika diingatkan dengan bahayanya maksiat sebagai sebab murkanya Allah. Dengan kelembutan hati, mudah diajak kepada kebaikan, ketaatan karena rindu kepadaNya dan kekekalan surgaNya.

       Jalan kelembutan hati adalah dengan membaca serta mentadabburi ayat-ayat Allah, mengingat mati, akhirat, dan fananya dunia. Ikhwati, sunnguh dengan kelembutan hati menjadikan hidup penuh dengan amal shalih dan ihsan terhadap hamba-hamba Allah.

       Sebaliknya, kerasnya hati menyebabkan orang melakukan segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran tanpa merasa bersalah. Penyebabnya karena jauh kontak dan hubungan dengan Allah, serta jauh dari tadabbur ayay-ayat Allah. Hati keras karena lupa Allah dan akhirat, sehingga terjatuh pada perbudakan makhluk dan syahwat dunia. Ketika lupa Allah, maka akan timbul penyakit takabur. Ketika lupa mati dan akhirat, hati akan mati dan menjadi budak dunia, sehingga akan melakukan segala hawa nafsu. Diantara tanda kerasnya hati yang terlihat jelas dipelupuk mata adalah perilaku korupsi yang merugikan jutaan manusia, tidak merasa bersalah, bahkan masih beretorika sebagai anak bangsa yang baik dan berkampanye untuk memimpin bangsa. Contoh lain, kerasnya hati kaum liberal yang mencari dunia dengan menjajakan kekufuran pluralisme dan melecehkan segala hal-hal yang berprinsip islam. Misalnya: menghalalkan zina, homo, lesbi, dan riba dengan berbagai retorika setan yang sesat menyesatkan.

       Hati yang keras adalah hati yang tidak takut dosa, tidak rindu kepada surga. tidak merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah, tenggelam kepada kemaksiatan tanpa ada rasa penyesalan dan juga malu. Yang dikejar hanya materi, tidak kenal halal maupun haram.

       Hati yang jeras, melihat semua ilmu dan aktivitas adalah uang. Dan uanglah yang dijadikan ukuran sukses atau tidak. Yang cerdas adalah  yang pintar cari uang, walaupun dengan menipu. Allah berfirman: "Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan-Ku dan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia." Itulah puncak dari ilmu mereka.

       Sudah tentu pemilik hati yang keras tidak lagi mengenal ibada kepada Allah, maka jauhlah dari Allah dan dekatlah denga syaitan. Mereka melihat kemungkaran sebagai kebaikan dan kesesatan sebagai petunjuk. Allah berfirman dalam surah Az Zukhruf ayat 36: "Siapa yang berpaling dari peringatan Ar Rahman, kami sediakaan baginya syaitan, maka syaitan itu selalu bersamanya, dan syaitan-syaitan itu menghalanginya dari jalan Allah dan mereka menyangka dirinya mendapat petunjuk."

       Allah Ya Rahman, ampuni segala kesalahan kami.

       Sekian, semoga menjadi bahan tadabbur untuk jiwa-jiwa kita, raga-raga kita, fikiran-fikiran kita yang selama ini jarang atau bahkan sering melupakan Allah. Termasuk diri ini yang masih sering melalaikan perintah-perintahNya, yang masih sering terlena dengam kesenangan-kesenangan duniawi, yang masih sering setengah-setengah dalam menjalankan segala kebaikan, dan lain-lain.

       "Allahumma iqsim lana min khosy-yatika maa tahula bihi bainana wa baina ma-‘ashika, wa min tho’atika maa tuballighuna bihi jannataka, wa minal yaqini maa tuhawwinu bihi ‘alaina masho-ibad dunya. Allahumma matti’na biasma’ina wa abshorina wa quwwatina maa ahyaitana, waj’alhul waritsa minna, waj’al tsa’rana ‘ala man dzalamana, wanshurna ‘ala man ‘aadana, wa laa taj’al mushibatana fi diinina wa laa taj’alid dunya akbara hammina, wa laa mablagha ‘ilmina wa laa tusallit ‘alaina man laa yarhamuna."

 
*******


by: Urwah Fauzan
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (١٧)
Terjemah Surat Al Hadid Ayat 16-17
16. [12] [13]Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)[14] dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang[15] sehingga hati mereka menjadi keras[16]. Dan
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (١٧)
Terjemah Surat Al Hadid Ayat 16-17
16. [12] [13]Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)[14] dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang[15] sehingga hati mereka menjadi keras[16]. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (١٧)
Terjemah Surat Al Hadid Ayat 16-17
16. [12] [13]Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)[14] dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang[15] sehingga hati mereka menjadi keras[16]. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik

Sabtu, 01 Juli 2017

Dekatkanlah Diri Pada Allah, Maka Kesedihan Akan Lebur



        Ketika Hati diperbaiki maka dosa-dosa besar terampuni dan jika seorang hamba bertekad meninggalkan dosa, maka ia akan diliputi hati yang selalu terjaga, Ingat saudaraku, Sesungguhnya kemewahan dunia akan menjauhkan kita dari memikirkan akhirat, dan setiap nikmat yang tidak menjadikan kita dekat dengan Allah maka sebenarnya itu adalah bencana.


        Tidaklah mentari bersinar di pagi hari melainkan pada hari itu nafsu dan ilmu akan menghampiri penuntut ilmu, lalu keduanya saling bertarung dalam dadanya dengan sangat dahsyat, jika ilmunya mengalahkan nafsunya maka hari itu adalah hari keberuntungannya, tetapi jika nafsunya mengalahkan ilmunya maka hari itu adalah hari kerugiannya.

        Pernah suatu hari, seorang ulama ditanya, "Mengapa perkataan salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?" kemudian beliau menjawab, "Karena mereka berbicara demi kemuliaan islam, keselamatan manusia dan keridhaan Allah. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, serta mencari dunia dan ketenaran dihadapan manusia."

        Ya, begitulah kebanyakan manusia. Nafsunya mengalahkan segalanya.

        Bukalah kedua mata pada alam semesta ini, maka kita akan melihat indahnya keindahan. Bukalah hati untuk melihat rahasia-rahasia keindahan, maka kita akan melihat kehidupan ini berbunga-bunga. Nikmatilah kehidupan dalam sanubari ini, maka kehidupan akan menjadi milik kita seluruhnya. Satukan hati kita satu sama lain maka akan menyatu pula akal kita. Sungguh kita semua berharap kehidupan yang damai dan bahagia dengan seizin Allah.

        Ikhwati, terkadang kesedihan mampu membuat kita kembali padaNya, dan terkadang kesedihan membawa kita jauh dariNya. Semua berlaku karena izin Allah. Maka kemanakah tempat terbaik untuk kita mencurahkan kesedihan agar ia tidak menjadi perkara yang sia-sia begitu saja. Seringkali manusia itu bersedih karena perkara duniawi semata. Saat dihadapakan dengan sebuah kegagalan, kita bersedih. Saat kenyataan tak sesuai dengan harapan, kita bersedih. Saat kehilangan sesuatu yang amat berharaga, kita bersedih. Pada hakikatnya, sedih adalah hal yang wajar. Namun persoalannya adalah wajarkah kita bersedih semata perkara dunia yang terlihat besar di mata kita, dan sebenarnya kecil disisi Allah..?

        Dalam sebuah hadits Shahih disebutkan: Seandainya nilai dunia disisi Allah sama nilainya dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air. Maksudnya adalah, dunia itu lebih tidak berharga dari sayap seekor nyamuk. Maka inilah hakikat sebenarnya nilai dan timbangan dunia disisi Allah. Lalu atas alasan apa untuk kita bersedih dan gelisah karena perkara dunia semata? 

         Ingat, dalam hati manusia ada kesedihan dan tidak akan hilang kecuali kegembiraan mengenali Allah, menghayati nikmatNya, dan mensyukuri setiap hembusan nafas ini.

        Karena kebahagiaan itu mudah didapat dan sederhana bentuknya. Sungguh, kebahagiaan adalah apabila kita merasa aman atas diri sendiri, masa depan, keluarga, orang banyak, dan kehidupan kita sendiri. Semua ini terhimpun dalam keimanan, ridha terhadap qadha dan qadhar Allah, serta diiringi oleh sifat qana'ah dan sabar dalam melangkah diatas jalan Allah ini. Memang, terkadang kebahagian itu seperti pelangi, tidak selalu ada diatas kepala kita, tetapi ada diatas kepala orang lain. Saat-saat seperti ini, tersenyumlah. Karena Allah bersama kita kapanpun, dimanapun, dan apapun kondisinya.

         Untuk itu, bersedihlah sewajarnya dan bukan semata bersedih karena perkara dunia. Bersedihlah saat kita merasa betapa jauhnya diri kita selama ini pada Allah, Jauh jiwa dan raga. Adakah yang lebih sedih selain itu?

        Saat kehidupan beri beribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita punya sejuta alasan untuk tersenyum. Dan saat kita merasa yang terlemah, ingatlah bahwa selalu ada orang yang selalu tersenyum untuk menguatkan kita. Karena beginilah sejatinya kehidupan, tak selalu lurus dan mulus, namun terkadang terjal penuh kerikil dan bebatuan.

        Akhirul kalam, jangan bersedih, ingat Allah dan dekatkan diri padaNya, maka kesedihan itu lebur. Semoga dengan umur; kekuatan; kesehatan dan karunia lain yang Allah berikan, yang tak terhitung bila kita menjumlahnya, dapat mengetuk hati dan iman kita. Kalaulah belum mampu berjuang atau berkorban sebagaimana Rasulullah SAW, sahabat, dan para salafushsholih,
setidaknya kita dapat menjaga; memelihara; dan mempertahankan warisan mereka dengan istiqomah. Karena ini adalah perkara "Bagaimana usaha kita dalam mempertahankan dan menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.." bukan perkara "Mengapa kesedihan ini terjadi dalam hidupku.."

        Wallahu a'lam bishawab


*******


by: Urwah Fauzan

Jumat, 30 Juni 2017

Ya, Tarbiyah Allah Mengokohkan Tekad Kita



       Tekad yang kita miliki semata-mata Allah yang mendatangkan, harapan yang kita simpan semata-mata Allah yang menghadirkan, dan cita-cita yang kita perjuangkan semata-mata Allah yang memberikan. Bukankah itu ni'mat? Ni'mat akal, ni'mat kesehatan, dan tak lain adalah ni'mat keimanan. Maka, bersyukurlah.


       Semua itu, karena Allah anugerahkan tarbiyah dalam hidup ini.

       Bertekadlah, saat semua harapan dan mimpi yang kita simpan dan perjuangkan telah menyatu karena keimanan. Tak ada yang perlu kita risaukan hingga akhirnya menghalangi tekad kita, selama itu baik maka Allah akan meridhoi segalanya. Dan jika Allah sudah berkehendak, apapun akan terjadi. Lihatlah, jalan itu akan terlihat jelas jika tekad yang kita miliki benar dan kuat.

       Semua itu, karena Allah anugerahkan tarbiyah dalam hidup ini.

       Ikhwati, kekuatan iman dihati kita hingga mampu melangkah dan bergerak adalah buah keridhoan Allah yang kita libatkan dalam perkara-perkara hidup. Bukankah ridho Allah mengantarkan kita pada kecercahan rindu, ya rindu, rindu surga-Nya; rindu rasul-Nya; rindu para shalihin; rindu para pejuang di jalan Allah, dan lain-lain, yang pada intinya surga adalah kebahagiaan hakiki, dan sebaik-baik tempat kembali.

       Semua itu, karena Allah anugerahkan tarbiyah dalam hidup ini.

       Ketika jalan terjal berliku yang kita tapaki, ketika gelombang badai yang kita hadapi, dan ketika hujan yang kita lalui, itulah lembaran perjuangan yang akan menjadi saksi di akhirat nanti. Hanya orang-orang yang menikmati perjuangan dengan syahdu yang bisa melalui jalan terjal; gelombang badai; dan hujan dihidup ini. Dan tanpa disadari, semuanya telah berlalu.

       Semua itu, karena Allah anugerahkan tarbiyah dalam hidup ini.

       Perjuangan bukanlah hal yang mudah, tapi akan senantiasa mudah saat melibatkan Allah dalam langkah perjuangan itu. Yang perlu kita yakini adalah Allah sebaik-baik sutradara, yang mengatur segala episode kehidupan ini, jadi untuk apa kita gelisah; takut; dan pesimis jika kita tahu bahwa Allah itu yang mengatur. Karena Allah Maha Tahu mana yang baik untuk hamba-hambaNya.

       Semua itu, karena Allah anugerahkan tarbiyah dalam hidup ini.

       Ya, berulangkali saya tegaskan bahwa semua itu karena Allah anugerahkan kita tarbiyah dalam hidup ini. Mengapa? karena tarbiyah Allah-lah yang mengokohkan tekad-tekad kita untuk meraih harapan dan cita-cita, yang tentunya Allah adalah orientasi utama semua langkah-langkah kita. 'Ala kulli haal, Semoga kita semua termasuk orang-orang sukses dunia dan akhirat. Aamiin.

      Wallahu a'lam bishawab

*****

by: Urwah Fauzan

Senin, 26 September 2016

Siapa Diri Kita

     Kebanyakan orang sekarang bercerita dan mengisahkan kehidupannya sebagai suatu perbuatan yang sangat berharga, dimana ia telah mengukir suatu sejarah dalam jejak langkah kehidupanya. Baik buruk, positif negatif, senang susah, berbaur dengan dilema cakrawala dalam kisahnya.

     Namun kenapa?, terkadang sangat di sayangkan, manusia yang bangga dengan kisahnya,yang akan bercerita dengan keburukan-keburukan yang pernah di alaminya?, semisal “Zaman mudaku dulu adalah seorang preman yang terkenal di kampung”, atau bahkan ” pada waktu SMA dulu aku adalah play boy paling tangguh dalam mamikat wanita”, mungkin juga “Aku adalah pecandu yang pernah memakai narkoba.”

     Segelintir kisah yang sangat pahit bila di renungkan, namun di banggakan bagi beberapa orang.
lain halnya dengan orang yang mengisahkan kehidupanya dengan cerita indahnya?, semisal "Aku pernah menolong orang dalam kesusahan dengan memberi kan sumbangan dana yang besar”, atau bahkan “pada saat remaja aku pernah jadi murid teladan dan berprestasi di sekolah”, mungkin juga “Aku adalah orang yang suka menolong orang lain“, memang sungguh kehidupan memiliki banyak kisah dalam misterinya.

     Demikian juga segelintir kisah yang sangat pahit bila di sombongkan, namun juga di banggakan bagi beberapa orang! Aku adalah ini, itu, anu, dan sebagainya.

     Tanda tanya besar siapa diri kita, dan bagai mana kita sebenarnya?? “Memang tiada makhluk yang baik, namun yang baik adalah manusia yang ingin selalu berbuat untuk baik” dan “Tiada makhluk yang sempurna, namun kesempurnaan itu ada apabila manusia itu tau bahwa sempurna itu hanya milik-NYA semata!"

Sabtu, 03 September 2016

Rerintik Hujan

HUJAN

Teruntuk orang-orang yang jatuh cinta pada hujan

Yang jatuh cinta pada setiap rintik hujan dan harum tanah basah

Teruntuk orang-orang yang menganggap hujan sang pemanggil kenangan

Yang menyusun setiap keping kerinduan

Dengar, hujan tak selalu tentang bagaimana Allah menciptakan romantisnya alam

Hujan juga tentang bagaimana Allah menimpakan ujian pada mahluk-Nya

Tentang tukang becak yang harus berteduh dengan tubuh yang kuyup menahan dingin

Tentang para penjual es yang kian resah karena dinginnya hujan mengalahkan dinginya es mereka

Masihkah kau jatuh cinta pada hujan ?

Ketika mahluk-mahluk kecil menggigil mencari tempat berteduh

Masihkah kau duduk nyaman menikmati romantisnya hujan

Ketika yang lain tetap kedinginan

Karena tak punya tempat yang disebut rumah

Tapi tak usahlah kau kutuki hujan

Sebagaimana senja yang  begitu manis

Hujan juga pantas kau nikmati, dengan syukur

Bersyukurlah jika kau bagian dari orang-orang yang tak menggigil kedinginan

Bersyukurlah jika kau bagian dari orang-orang yang duduk nyaman dalam hangat ditengah dinginya hujan

Bersyukurlah, Allah mengemas harimu begitu manis


[ Rumah Qur'an Hafshah, Mampang - Jakarta Selatan ]

Keras Hati Adalah Sumber Kemaksiatan Dan Kefasikan

          أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا ...