Sabtu, 01 Juli 2017

Dekatkanlah Diri Pada Allah, Maka Kesedihan Akan Lebur



        Ketika Hati diperbaiki maka dosa-dosa besar terampuni dan jika seorang hamba bertekad meninggalkan dosa, maka ia akan diliputi hati yang selalu terjaga, Ingat saudaraku, Sesungguhnya kemewahan dunia akan menjauhkan kita dari memikirkan akhirat, dan setiap nikmat yang tidak menjadikan kita dekat dengan Allah maka sebenarnya itu adalah bencana.


        Tidaklah mentari bersinar di pagi hari melainkan pada hari itu nafsu dan ilmu akan menghampiri penuntut ilmu, lalu keduanya saling bertarung dalam dadanya dengan sangat dahsyat, jika ilmunya mengalahkan nafsunya maka hari itu adalah hari keberuntungannya, tetapi jika nafsunya mengalahkan ilmunya maka hari itu adalah hari kerugiannya.

        Pernah suatu hari, seorang ulama ditanya, "Mengapa perkataan salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?" kemudian beliau menjawab, "Karena mereka berbicara demi kemuliaan islam, keselamatan manusia dan keridhaan Allah. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, serta mencari dunia dan ketenaran dihadapan manusia."

        Ya, begitulah kebanyakan manusia. Nafsunya mengalahkan segalanya.

        Bukalah kedua mata pada alam semesta ini, maka kita akan melihat indahnya keindahan. Bukalah hati untuk melihat rahasia-rahasia keindahan, maka kita akan melihat kehidupan ini berbunga-bunga. Nikmatilah kehidupan dalam sanubari ini, maka kehidupan akan menjadi milik kita seluruhnya. Satukan hati kita satu sama lain maka akan menyatu pula akal kita. Sungguh kita semua berharap kehidupan yang damai dan bahagia dengan seizin Allah.

        Ikhwati, terkadang kesedihan mampu membuat kita kembali padaNya, dan terkadang kesedihan membawa kita jauh dariNya. Semua berlaku karena izin Allah. Maka kemanakah tempat terbaik untuk kita mencurahkan kesedihan agar ia tidak menjadi perkara yang sia-sia begitu saja. Seringkali manusia itu bersedih karena perkara duniawi semata. Saat dihadapakan dengan sebuah kegagalan, kita bersedih. Saat kenyataan tak sesuai dengan harapan, kita bersedih. Saat kehilangan sesuatu yang amat berharaga, kita bersedih. Pada hakikatnya, sedih adalah hal yang wajar. Namun persoalannya adalah wajarkah kita bersedih semata perkara dunia yang terlihat besar di mata kita, dan sebenarnya kecil disisi Allah..?

        Dalam sebuah hadits Shahih disebutkan: Seandainya nilai dunia disisi Allah sama nilainya dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air. Maksudnya adalah, dunia itu lebih tidak berharga dari sayap seekor nyamuk. Maka inilah hakikat sebenarnya nilai dan timbangan dunia disisi Allah. Lalu atas alasan apa untuk kita bersedih dan gelisah karena perkara dunia semata? 

         Ingat, dalam hati manusia ada kesedihan dan tidak akan hilang kecuali kegembiraan mengenali Allah, menghayati nikmatNya, dan mensyukuri setiap hembusan nafas ini.

        Karena kebahagiaan itu mudah didapat dan sederhana bentuknya. Sungguh, kebahagiaan adalah apabila kita merasa aman atas diri sendiri, masa depan, keluarga, orang banyak, dan kehidupan kita sendiri. Semua ini terhimpun dalam keimanan, ridha terhadap qadha dan qadhar Allah, serta diiringi oleh sifat qana'ah dan sabar dalam melangkah diatas jalan Allah ini. Memang, terkadang kebahagian itu seperti pelangi, tidak selalu ada diatas kepala kita, tetapi ada diatas kepala orang lain. Saat-saat seperti ini, tersenyumlah. Karena Allah bersama kita kapanpun, dimanapun, dan apapun kondisinya.

         Untuk itu, bersedihlah sewajarnya dan bukan semata bersedih karena perkara dunia. Bersedihlah saat kita merasa betapa jauhnya diri kita selama ini pada Allah, Jauh jiwa dan raga. Adakah yang lebih sedih selain itu?

        Saat kehidupan beri beribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita punya sejuta alasan untuk tersenyum. Dan saat kita merasa yang terlemah, ingatlah bahwa selalu ada orang yang selalu tersenyum untuk menguatkan kita. Karena beginilah sejatinya kehidupan, tak selalu lurus dan mulus, namun terkadang terjal penuh kerikil dan bebatuan.

        Akhirul kalam, jangan bersedih, ingat Allah dan dekatkan diri padaNya, maka kesedihan itu lebur. Semoga dengan umur; kekuatan; kesehatan dan karunia lain yang Allah berikan, yang tak terhitung bila kita menjumlahnya, dapat mengetuk hati dan iman kita. Kalaulah belum mampu berjuang atau berkorban sebagaimana Rasulullah SAW, sahabat, dan para salafushsholih,
setidaknya kita dapat menjaga; memelihara; dan mempertahankan warisan mereka dengan istiqomah. Karena ini adalah perkara "Bagaimana usaha kita dalam mempertahankan dan menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.." bukan perkara "Mengapa kesedihan ini terjadi dalam hidupku.."

        Wallahu a'lam bishawab


*******


by: Urwah Fauzan

The Dreams

                   Ada sebuah keinginan dan rasa yang dalam, sulit untuk digerakkan bahkan dikeluarkan. Manakala sebuah tujuan adalah se...